Avsnitt

  • Kencan Dengan Tuhan - Jumat, 26 Juni 2026

    Bacaan:

    "Sabarlah terhadap semua orang. " (1 Tesalonika 5:14)

    Renungan:

    Banyak orang punya masalah dengan emosi. Sangat temperamental dan gampang meledak. Orang seperti ini bisa termasuk tipe gunung merapi yang mudah meletus. Kalau "gunung berapi" ini sudah meletus, keluarlah lahar perkataan yang panas, pedas, tajam, dan menyakitkan. Mengapa hal ini bisa terjadi? Secara ilmiah, di bagian otak kita ada amygdala yang kerap disebut otak emosi. Amygdala bekerja 80.000 kali lebih cepat dibandingkan otak besar. Karena amygdala bekerja lebih cepat, logika jadi dikalahkan emosi. Untuk mencapai kecepatan yang sama dengan amygdala, otak besar butuh waktu enam detik. Dari perhitungan inilah para ahli jiwa menemukan teori "Jeda Enam Detik", yaitu mengambil jeda selama 6 detik sebelum bicara dan mengambil keputusan saat kita marah atau sedang emosi.

    Jauh sebelum teori Jeda Enam Detik ditemukan, firman Tuhan sudah memberi nasihat kepada kita yang memiliki problem emosi temperamental. 1 Tesalonika 5:14b mengatakan, "Sabarlah terhadap semua orang." Ketika seseorang menyulut sumbu kemarahan kita, kita tidak akan langsung meledak sebaliknya kita berusaha mengulur-ulur waktu sangat lama untuk kita menjadi marah dan mendidih. Karena waktu "mendidihnya" lama maka kita punya banyak kesempatan untuk menguasai diri, menenangkan diri, dan berpikir jernih sebelum mengambil keputusan yang bodoh.

    Jadilah sabar. Sabar membebaskan kita dari amarah yang tak terkontrol dan tak terkendali. Sabar menghindarkan kita dari kekeliruan. Dalam Amsal 14:17 dikatakan, "Siapa lekas naik darah, berlaku bodoh, tetapi orang yang bijaksana, bersabar." Apakah kita orang yang bijak ataukah orang yang bodoh, ditentukan oleh seberapa kita sabar. Jadilah pengikut Yesus yang perlu waktu lama untuk mendidih, bukan seperti gunung berapi yang meledak-ledak. Setiap kali hendak meledak, ingatlah untuk mengambil jeda selama enam detik untuk menenangkan diri. Tuhan Yesus memberkati.

    Doa:

    Tuhan Yesus, berikanlah aku kesabaran, sehingga masalah apapun yang terjadi dalam hidupku, hatiku dapat tetap tenang menghadapinya. Amin. (Dod).

  • Kencan Dengan Tuhan - Kamis, 25 Juni 2026

    Bacaan:

    "Sebab jikalau kamu berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepada kamu, apakah jasamu? Orang-orang berdosapun berbuat demikian." (Lukas 6:33)

    Renungan:

    Senyum adalah salah satu gestur universal manusia. Bahasa manusia boleh berbeda-beda, budaya juga bisa beragam macamnya, tapi di hampir semua tempat, senyuman dimengerti sebagai tanda kegembiraan, keramahan, dan penerimaan. Ketika kita melakukan kebaikan kepada seseorang, maka senyuman dan ucapan terima kasih darinya bukanlah hal yang mengejutkan. Namun ketika kita melakukan kesalahan, ketika kita menumpahkan minuman ke baju seseorang, kita datang terlambat ke satu pertemuan penting, kita berbelok di tikungan yang salah saat mengantarkan seseorang yang sedang buru-buru, tapi orang itu tetap memberikan senyuman, maka perasaan kita akan sangat berbeda dengan situasi pertama tadi. Kita jelas lebih lega. Senyuman itu menjadi lebih berkesan karena kita akan mengingat orang tersebut sebagai orang yang baik, sabar, rendah hati, dst. Ketika kebaikan tampak sulit didapatkan tapi kita justru menerimanya, saat itu akan menjadi momen yang tak terlupakan.

    Inilah yang diajarkan Yesus kepada kita. Bukan hanya berbuat baik kepada mereka yang baik kepada kita, tapi juga kepada mereka yang telah melukai atau berbuat jahat pada kita. Bukan memberi sesuai apa yang diperintahkan, tapi memberi lebih dari itu. Bukan memberkati dan mendoakan orang yang kita sayangi saja, tapi memberkati dan mendoakan mereka yang mengutuki dan memusuhi kita. Jika itu semua yang kita lakukan, percayalah tindakan itu akan jauh lebih diingat orang.

    Itulah sesungguhnya yang disebut hidup yang menjadi berkat. Jika kita ingin hidup kita bisa menjadi berkat bagi orang lain, itu tidak cukup dengan banyak memberi atau berbuat baik saja. Tapi, berilah, nyatakan kasih, dan buatlah kebaikan juga kepada mereka yang seolah tidak pantas untuk menerimanya, yaitu mereka yang membenci, memusuhi, dan menyakiti kita. Tuhan Yesus memberkati.

    Doa:

    Tuhan Yesus, penuhilah aku dengan cinta-Mu, agar aku dapat membagikan cinta-Mu itu kepada orang lain tanpa memandang apakah dia baik bagiku atau mengecewakanku. Amin. (Dod).

  • Saknas det avsnitt?

    Klicka här för att uppdatera flödet manuellt.

  • Kencan Dengan Tuhan - Rabu, 24 Juni 2026

    Bacaan:

    "Dan sebagaimana kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah juga demikian kepada mereka." (Lukas 6:31)

    Renungan:

    Seorang pria bercerita: "Waktu kecil, aku ingat suatu malam ketika Ibu menyiapkan makan malam setelah seharian kerja yang melelahkan. Saat itu, la menghidangkan telur dadar, sosis, dan beberapa biskuit gosong di hadapan ayahku. Aku menunggu reaksi kaget atau protes ayahku. Tapi, yang Ayah lakukan saat itu justru langsung mengambil biskuit itu, memakannya, sambil bertanya apa yang terjadi di sekolahku hari itu. Sesaat setelah itu, aku mendengar Ibu meminta maaf pada Ayah karena biskuitnya sedikit gosong. Dan Ayah menjawab: 'Tidak apa-apa Sayang, enak kok biskuitnya. Penasaran, aku pun bertanya pada Ayah mengenai apakah ia benar-benar menyukai biskuit gosong ketika kami hanya berdua di kamar. Ayah pun memelukku sambil menjawab: 'Ibumu sudah bekerja keras seharian dan ia sudah lelah. Lagipula, biskuit yang sedikit gosong juga tidak akan membuat perut Ayah atau perutmu sakit, kan?'"

    Dalam hidup keseharian, kita akan sering menemukan ketidaksempurnaan seperti itu. Biskuit gosong di atas adalah perlambang dari segala kelemahan/perbedaan orang-orang yang ada di sekitar kita. Orang tua kita mungkin bukanlah orang kaya yang bisa memberi kita berbagai macam fasilitas. Sahabat kita orangnya mungkin sedikit lemot. Teman sekolah kita mungkin punya hobi suka menggosip. Atau, rekan kantor kita mungkin ada yang maunya di zona aman terus, cenderung pasif, dan susah diajak maju. Tapi, coba lihat diri kita sendiri, bukankah kita juga punya kelemahan? Sebagai rekan kerja, misalnya, kita mungkin cenderung berani dan punya ambisi kuat, tapi di sisi lain kita mungkin adalah seorang pelupa. Atau sebagai sahabat, kita mungkin pinter, tapi di sisi lain kita orangnya kurang tepat waktu. Maka, lebih baik syukuri kelemahan dan perbedaan itu daripada mengeluhkan apalagi mengutukinya. Kita tidak mungkin berharap semua orang punya karakter yang baik dan sesuai keinginan kita. Menerima kelemahan orang-orang yang ada di sekitar kita dan perbedaan yang ada, adalah salah satu kunci penting buat menciptakan relasi atau hubungan yang sehat, selalu bertumbuh, dan bertahan lama. Yang penting bukan "biskuit gosongnya", tapi "relasi" kita dengan orang-orang yang ada di sekitar kita. Tuhan Yesus memberkati.

    Doa:

    Tuhan Yesus, berilah aku rahmat kerendahan hati sehingga dapat menerima kekurangan orang-orang di sekitarku dan mampu memotivasi mereka untuk melangkah lebih maju. Amin. (Dod).

  • Kencan Dengan Tuhan - Selasa, 23 Juni 2026

    Bacaan:

    Lalu kata Musa kepada TUHAN: "Ah, Tuhan, aku ini tidak pandai bicara, dahulu pun tidak dan sejak Engkau berfirman kepada hamba-Mu pun tidak, sebab aku berat mulut dan berat lidah." (Keluaran 4:10)

    Renungan:

    Rowan Atkinson lahir dalam keluarga ekonomi menengah dan mengalami banyak kesulitan ketika kanak-kanak karena masalah gagapnya. Di sekolah, ia sering kali di bully dan dianggap seperti alien. Ketika ia fokus di bidang ilmu pengetahuan, gurunya pun berkata kalo ia sama sekali tidak menonjol. Tapi di kemudian hari, ia berhasil membuktikan diri. la diterima di Universitas Oxford dan meraih gelar master dalam bidang teknik elektro. Setelah itu, ia mulai mengejar kemampuannya dalam bidang akting. Lagi-lagi karena masalah gagapnya, ia banyak ditolak oleh stasiun televisi. Tapi ia tidak pernah menyerah terhadap kemampuannya. la terus mengembangkan gaya komedinya sendiri dan akhirnya terciptalah karakter Mr. Bean yang mendunia. Rowan secara tidak langsung sudah membuktikan bahwa tanpa tubuh kekar dan wajah Hollywood pun, ia bisa menjadi aktor yang disayangi dan dihormati di dunia perfilman. Kisah hidup Mr. Bean bener-bener menunjukkan kalau hal yang terpenting untuk meraih keberhasilan adalah kemampuan, kerja keras, dan sikap pantang menyerah.

    Dalam Alkitab, ada juga seorang tokoh yang punya masalah dalam hal komunikasi. la adalah Musa. Waktu Tuhan memintanya memimpin bangsa Israel keluar dari Mesir, ia sendiri yang mengakui kelemahannya itu: "Ya, Tuhan, saya bukan orang yang pandai bicara, baik dahulu maupun sekarang, sesudah TUHAN bicara kepada saya. Saya berat lidah, bicara lambat dan tidak lancar." Tapi Tuhan sendiri kemudian yang meyakinkan dan memampukannya. Kelemahannya ini nggak jadi masalah sebab Musa sendiri akhirnya berhasil memimpin bangsa Israel selama puluhan tahun.

    Tidak ada orang yang lahir sempurna. Semua orang pasti punya kelemahannya masing-masing. Bahkan orang berhasil yang kita kenal sekarang pun pasti punya kelemahan. Yang kita lakukan seharusnya bukanlah fokus pada kelemahan, tapi pada kemampuan yang diimbangi dengan kerja keras, dan sikap pantang menyerah. Asal kita punya semua itu, ditambah dengan penyertaan Tuhan tentunya, maka kita bisa jadi apa pun yang kita mau. Tiap orang punya kelemahan, tapi tiap orang juga bisa berhasil. Tuhan Yesus memberkati.

    Doa:

    Tuhan Yesus, kuserahkan keterbatasanku ke dalam tangan-Mu. Aku percaya melalui berkat-Mu maka keterbatasanku akan Kau ubah menjadi kekuatanku. Amin. (Dod).

  • Kencan Dengan Tuhan - Senin, 22 Juni 2026

    Bacaan:

    "Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat." (Efesus 5:15-16)

    Renungan:

    Manusia memiliki banyak cara menghitung waktu. Kita juga mengenal banyak alat untuk melakukan itu semua, mulai dari kalender, jam, hingga stopwatch. Bahkan sebagian orang mengeluarkan uang berjuta-juta hingga milyaran rupiah untuk sebuah arloji saja. Apakah orang yang memiliki arloji senilai milyaran rupiah pasti lebih menghargai waktu daripada mereka yang melihat waktu hanya dari jam di ponsel? Belum tentu.

    Orang bisa menghargai waktu ketika ia bisa melihat waktu dengan cara yang benar. Sayang, masih banyak yang melihat waktu dengan cara salah. Ada yang memakai seluruh waktunya hanya untuk melakukan satu hal (misal: bekerja terus menerus, atau berhura-hura tak ada habisnya). Ada juga yang terpaku pada masa lalu. Ada yang hanya fokus pada hal-hal jangka pendek sehingga tidak siap menghadapi masa depan. Ada yang menilai seluruh waktunya dengan apa yang terjadi di satu waktu saja. Jika gagal, ia merasa hidupnya akan selalu gagal. Jika berhasil, ia sombong karena merasa tak akan bisa gagal. Tidak sedikit juga yang gagal menikmati masa sekarang. Daripada menikmati hal-hal yang ada di hadapan mereka, mereka lebih terpaku pada masa lalu ataupun terus mengejar ini itu dengan beralasan semuanya demi masa depan.

    Satu yang harus kita pahami adalah bahwa setiap waktu adalah berharga. Itu sebabnya kita harus belajar menghitung hari (Mzm. 90:12). Ya, hari, bukan bulan atau tahun. Artinya, hargai setiap waktu, dari waktu terkecil. Setiap waktu adalah berharga, bukan karena waktu adalah uang seperti pepatah dunia. Waktu berharga karena apa yang kita lakukan di setiap waktu kita di dunia ini akan berdampak pada waktu kita di kekekalan nanti. Karena itu, hanya memakai waktu untuk urusan dunia, mengejar kesuksesan jasmani atau ambisi pribadi, tentu tidak bijak. Memakai waktu untuk bersekutu dengan Allah, mengasihi keluarga, melayani sesama, serta juga beristirahat dan menjaga kesehatan, itu yang juga harus dilakukan. Hiduplah dengan fokus untuk melakukan kehendak Allah dalam segala hal, baik itu di pekerjaan, pergaulan, hingga waktu pribadi. Itulah cara bijak menghargai waktu. Tuhan Yesus memberkati.

    Doa:

    Tuhan Yesus, berilah aku hikmat-Mu agar aku dapat menghargai waktuku. Sehingga apapun yang aku lakukan semua dapat bermanfaat bagi hidupku saat ini maupun untuk persiapan masa depanku. Amin. (Dod).

  • Kencan Dengan Tuhan - Minggu, 21 Juni 2026

    Bacaan:

    "Cara yang demikianlah diperbuat Absalom kepada semua orang Israel yang mau masuk menghadap untuk diadili perkaranya oleh raja, dan demikianlah Absalom mencuri hati orang-orang Israel." (2 Samuel 15:6)

    Renungan:

    Kita sering mendengar peribahasa ada udang di balik baru. Jika seseorang terlihat baik, belum tentu ia benar-benar baik. Kita tidak pernah tahu kalau saja ia punya maksud tersembunyi. Berbuat baik, tapi tidak tulus. Berbuat baik tapi ada maunya. Bukan berarti kita harus curiga kalau melihat seseorang melakukan perbuatan baik. Daripada sibuk menilai dan mencari tahu motivasi orang dalam melakukan kebaikan, lebih baik kita menjaga hati kita supaya tidak melakukan hal seperti ini. Setiap kali kita akan melakukan perbuatan baik, cobalah kita jujur kepada diri kita sendiri, "Apakah kita melakukan kebaikan karena didasari kasih yang tulus, ataukah sebenarnya kita punya agenda tersembunyi?"

    Absalom itu punya modal yang komplit untuk menjadi pemimpin besar Israel. Punya perawakan yang gagah, elok rupanya, cakap, dan terutama: pintar mengambil hati rakyat! Maka rakyat pun tertarik dengan kebaikan yang ditunjukkan oleh Absalom. Betapa tidak? Dengan telaten Absalom mengambil hati rakyat Israel dengan kebaikan-kebaikan yang dilakukannya. Tidak main-main, "udang itu bersembunyi di balik batu" hingga empat tahun! Betapa telatennya Absalom membangun citranya demi mengumpulkan massa. Begitu mayoritas orang Israel berpihak kepadanya, barulah ketahuan sifat asli Absalom, yaitu ia ingin memberontak dan mengkudeta ayahnya sendiri!

    Baik tanpa disertai dengan ketulusan itu berbahaya. Cobalah jujur kepada diri kita sendiri, apakah kita tulus dalam melakukan kebaikan, ataukah sebenarnya kita punya maksud tersembunyi? Sebagai anak-anak Tuhan, sungguh tidak pantas kalau kebaikan kita sebenarnya memiliki agenda terselubung. Bagaimana mungkin kita berharap Tuhan memberkati kebaikan yang kita lakukan, jika sebenarnya kita punya maksud yang tersembunyi, terlebih lagi jika kita punya maksud yang jahat seperti halnya yang dilakukan oleh Absalom! Jadilah orang yang baik tapi tulus. Menolong tanpa pamrih. Memberi tanpa berharap imbalan. Murah hati tanpa berharap kembali. Ketika kita tulus dalam berbuat baik, maka Tuhan sendiri yang akan membalas setiap kebaikan kita. Tuhan Yesus memberkati.

    Doa:

    Tuhan Yesus, murnikanlah setiap kebaikan yang sedang aku rencanakan maupun yang akan aku lakukan, sehingga semua nya itu aku lakukan dengan tulus hati tanpa ada rencana yang tidak baik di baliknya. Amin. (Dod).

  • Kencan Dengan Tuhan - Sabtu, 20 Juni 2026

    Bacaan:

    "Tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepada-Nya, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia. Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakan-Nya?" (Roma 10:14)

    Renungan:

    Shoichi Yokoi adalah salah satu serdadu Jepang yang bertempur di Perang Dunia II. Pada tahun 1944, Yokoi berada di Guam saat pasukan Amerika menyerang dan merebut pulau itu. Yokoi enggan menyerah dan memilih bersembunyi di hutan dengan beberapa temannya. Meski satu persatu temannya pergi atau wafat, Yokoi terus bertahan di hutan itu hingga 27 tahun, tanpa tahu Jepang telah menyerah pada 1945. Ketika ditemukan oleh beberapa nelayan, Yokoi sempat memberontak karena mengira ia akan ditawan musuh (sesuatu yang dianggap memalukan bagi prajurit Jepang). Sampai akhimya ia diberi tahu bahwa perang sudah berakhir beberapa dekade lalu.

    Saat Proklamasi Kemerdekaan dibacakan pada 17 Agustus 1945, mereka yang tinggal di pedesaan apalagi yang berada di pulau-pulau paling ujung Indonesia jelas belum tahu bahwa mereka telah menjadi bangsa merdeka. Teknologi dan komunikasi masih jauh dari saat ini. Harus ada orang yang memberi tahu mereka. Hingga akhirnya, cepat atau lambat berita tentang kemerdekaan Indonesia sampai ke telinga rakyat Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Kini semua rakyat Indonesia telah mengetahui bahwa mereka adalah bagian dari sebuah bangsa yang berdaulat.

    Demikian pula dengan berita tentang kemerdekaan yang lebih penting, yakni kemerdekaan manusia dari kutuk dosa. Dua ribu tahun lalu, di atas kayu salib, Yesus telah memerdekakan kita dari belenggu dosa. Namun hingga kini, masih banyak orang yang belum pernah mendengar kabar tentang hal itu. Seperti prajurit Yokoi tadi, mereka masih hidup dalam ketakutan, ketidakpastian, dan penderitaan. Ya, inilah tugas kita! Kita harus menyebarkan kabar tentang keselamatan itu kepada mereka yang belum juga mendengarnya. Cukup beritahukan kabar gembira ini kepada mereka. Jelaskan ketika mereka ingin lebih tahu tentang siapa Yesus. Tunjukkan kasih-Nya melalui sikap hidup kita. Mengenai respons mereka, itu urusan mereka dengan Tuhan. Inilah yang Tuhan mau untuk kita lakukan? Tuhan pun berjanji bahwa la akan menyertai kita, yang artinya la akan memampukan kita. Jadi, tunggu apa lagi? Tuhan Yesus memberkati.

    Doa:

    Tuhan Yesus, berilah aku kemauan untuk memberitakan tentang kasih-Mu kepada orang lain melalui perkataan dan perbuatanku, sehingga semakin banyak orang mengenal Engkau melalui kehadiranku. Amin. (Dod).

  • Kencan Dengan Tuhan - Jumat, 19 Juni 2026

    Bacaan:

    Lalu kata malaikat TUHAN itu kepadanya: "Kembalilah kepada nyonyamu, biarkanlah engkau ditindas di bawah kekuasaannya." (Kejadian 16:9)

    Renungan:

    Bisakah kita membayangkan situasi ini? Di saat kita sedang menghadapi pergumulan besar, tiba-tiba Tuhan menjumpai kita melalui sebuah penglihatan. Apa yang kita harapkan dari perjumpaan itu? Tentu saja kita yang sakit, ingin Tuhan memberi mukjizat kesembuhan. Kita yang sedang kekurangan berharap Tuhan akan mencukupkan, bahkan memberikan kelimpahan. Kita yang tidak tahu jalan keluar, tentu berharap Tuhan akan memberikan petunjuk kepada kita. Perjumpaan dengan Tuhan sering dimaknai bahwa Tuhan pasti menjawab pergumulan umat-Nya.

    Sekarang kita beralih pada kisah Hagar yang pergi meninggalkan rumah Abraham dan Sara karena tidak tahan ditindas oleh nyonyanya itu. Ketika Hagar sampai di padang gurun, maka Malaikat Tuhan menjumpainya. Hagar mungkin membayangkan bahwa Tuhan akan memberikan tuan dan nyonya baru, yang lebih baik dari Sara. Hagar mungkin membayangkan bahwa Tuhan akan membawa ke tempat atau keadaan yang lebih baik dari sebelumnya. Nyatanya bukan seperti itu yang dikatakan oleh Tuhan. Tuhan berkata, "Kembalilah kepada nyonyamu...". Mendengar kalimat ini, Hagar mungkin berpikir kalau Tuhan menyuruh untuk kembali kepada nyonyanya, karena Tuhan akan melembutkan hati Sara supaya tidak menindas dia lagi. Tapi kalimat berikutnya sungguh mengejutkan, karena Tuhan berkata, biarkanlah engkau ditindas di bawah kekuasaannya." (ay. 9). Bayangkan, disuruh kembali untuk ditindas lagi!

    Mengapa Tuhan menyuruh Hagar kembali kepada Sara? Karena prosesnya memang belum selesai! Tuhan memang mengizinkan Sara menindas Hagar, tapi pada saat yang sama Tuhan memberikan kekuatan kepada Hagar untuk kuat menanggung segala penindasan itu. Hal yang sama juga berlaku dalam hidup kita. Jika memang proses yang kita jalani belum selesai, jangan buru-buru keluar dari rencana Tuhan. Pastikan kita setia menjalani proses itu hingga tuntas. Percayalah kalau waktunya sudah tiba, Tuhan sendiri yang akan mengeluarkan kita dari semua proses itu dan karakter kita pun akan menjadi lebih indah dari sebelumnya. Tuhan Yesus memberkati.

    Doa:

    Tuhan Yesus, terima kasih untuk masalah yang Kau izinkan terjadi dalam hidupku. Aku percaya melalui masalah tersebut, Engkau sedang membentuk aku menjadi pribadi yang kuat dan tahan uji. Amin. (Dod).

  • Kencan Dengan Tuhan - Kamis, 18 Juni 2026

    Bacaan:

    Yang hatinya teguh Kaujagai dengan damai sejahtera, sebab kepada-Mulah ia percaya." (Yesaya 26:3)

    Renungan:

    Hidup adalah sekumpulan pilihan. Banyak alasan untuk membuat kita tertawa, tapi banyak orang memilih untuk kecewa. Banyak hal yang seharusnya membuat kita tersenyum, tapi banyak orang justru memilih untuk bersedih. Banyak hal yang seharusnya kita abaikan, tapi banyak orang justru mempersoalkan. Banyak hal yang seharusnya mudah dan sederhana untuk dijalani, tapi banyak orang memilih untuk ribet dan mempersulitnya. Banyak hal yang seharusnya kita syukuri, tapi banyak orang memilih untuk mengeluhkan hal-hal yang tidak ia miliki. Jika kita mau merenungkan lebih dalam, sesungguhnya hidup kita penuh dengan kebahagiaan, sayangnya kita tidak menyadarinya. Sebagai gantinya, kita justru memandang bahwa hidup kita seolah-olah hanya berisi penderitaan dan masalah saja. Lupa bahwa di dalam penderitaan sekalipun, kita bisa menemukan kekuatan dan penghiburan dari Tuhan.

    Pilihlah yang baik, bukan yang buruk. Pilihlah yang mendatangkan sukacita, bukan yang mengundang kecemasan. Pilihlah untuk berbahagia, bukan takut dan khawatir. Semuanya itu mungkin terjadi kalau kita bisa menguasai hati. Menguasai hati untuk terus bersyukur, dan bukan iri karena membandingkan diri dengan orang lain. Bukankah berkat tidak selalu urusan materi? Di saat jiwa kita tenang dan hati kita damai, bukankah itu kebahagiaan yang jauh lebih berharga daripada sekadar kekayaan dan materi saja? Itulah sebabnya untuk bahagia tidak selalu berarti harus memiliki segalanya, melainkan bersyukur untuk semuanya. Seperti halnya sebuah kalimat bijak berkata, "Bukan karena bahagia yang membuat kita bersyukur, tetapi karena kita bersyukur maka kita jadi bahagia."

    Jika kita mengerti rahasia kehidupan ini, tidak ada alasan untuk kita melupakan segala kebaikan dan kasih karunia Tuhan yang telah kita terima. Bahkan, di saat kita mengalami masa-masa yang paling sulit sekalipun, kita akan tetap merasakan ketenangan di dalam Tuhan. Di tengah badai kita merasakan damai! Apakah kita ketenangan jiwa seperti ini terjadi dalam hidup kita? Marilah kita ubah cara pandang kita. Tuhan Yesus memberkati.

    Doa:

    Tuhan Yesus, berilah aku ketenangan, bahkan di masa-masa sulit pun aku rindu Engkau hadir untuk memberi ketenangan padaku. Amin. (Dod).

  • Kencan Dengan Tuhan - Rabu, 17 Juni 2026

    Bacaan:

    "Sebab orang benar ini tinggal di tengah-tengah mereka dan setiap hari melihat dan mendengar perbuatan-perbuatan mereka yang jahat itu, sehingga jiwanya yarig benar itu tersiksa." (2 Petrus 2:8)

    Renungan:

    Satu pepatah berkata, "Burung yang sejenis akan berkumpul bersama-sama. Burung yang sejenis akan hinggap di dahan yang sama." Pepatah ini sungguh benar adanya. Kalau kita amati sekumpulan burung yang berhenti di sebuah dahan pohon, ternyata memang adalah burung yang jenisnya sama. Burung yang terbang secara bersama-sama juga adalah burung dengan jenis yang sama. Bukankah kita tidak pernah menjumpai burung gereja, burung kakatua, burung walet, atau burung elang terbang secara bersama-sama dan berhenti di dahan yang sama?

    Manusia juga sama. Dalam sebuah kelompok pergaulan, kita juga sering menjumpai hal seperti itu. Manusia berkelompok menurut jenis yang sama. Memiliki tujuan yang sama. Memiliki niat yang sama. Memiliki hobi yang sama. Bahkan, kerap kali memiliki karakter dan tabiat yang sama. Itu sebabnya kalau mau sukses, tentukan seperti apa pergaulan dan komunitas yang tepat. Kita akan sulit sukses jika kita bergaul bersama para pengangguran, orang yang bermalas-malasan, atau kumpulan orang yang tidak punya tujuan hidup. Sebab suka tidak suka, kita akan terpengaruh dan menjadi sejenis dengan perkumpulan kita.

    Lot adalah orang benar. Firman Tuhan di dalam 2 Petrus 2:8 dengan jelas menyatakan hal itu. Sayang, Lot berada dalam kumpulan orang berdosa. Tak heran jika jiwanya tersiksa karena berada dalam perkumpulan orang-orang yang jahat. Tak hanya jiwa Lot yang tersiksa, tapi lama kelamaan tabiat Lot pun menjadi semakin mirip dengan orang-orang Sodom yang amoral! Hati-hati dengan pergaulan kita. Jangan remehkan hal ini. Jangan anggap bahwa kita bisa berjaga-jaga dan tidak akan menjadi sama dengan mereka. Sehebat apapun kita menjaga diri, sedikit banyak kita akan terpengaruh dengan apa yang kita lihat, apa yang kita dengar, dan semua hal yang terjadi di depan mata kita secara terus menerus. Pilihlah kumpulan orang yang baik dan benar, maka kita pun akan menjadi lebih baik dari sebelumnya. Tuhan Yesus memberkati.

    Doa:

    Tuhan Yesus, berilah aku hikmat agar aku dapat bijaksana memilih teman yang dapat memberkati kepribadianku, sehingga hidupku pun dapat menjadi berkat bagi orang lain. Amin. (Dod).

  • Kencan Dengan Tuhan - Selasa, 16 Juni 2026

    Bacaan:

    Maka murid-murid-Nya membangunkan Dia dan berkata kepada "Guru, Engkau tidak perduli kalau kita binasa?" (Markus 4:38)

    Renungan:

    Ada satu pertanyaan, "Kapan seseorang dikatakan tidak peduli?" Jawabnya adalah, "Ketika ia tidak mau tahu dengan apa yang terjadi, la menolak memahami, ia acuh, dan menganggap orang lain tidak penting." Orang yang tak peduli juga egois dan memikirkan dirinya sendiri. Sikap seperti itu tentu sangat jauh dari karakter Yesus. Namun, Alkitab mencatat bahwa setidaknya dua kali Yesus dituduh sebagai pribadi yang tidak peduli. Mereka yang mengatakan demikian adalah orang-orang terdekat-Nya. Yang pertama adalah para murid-Nya sendiri. Ketika badai menerjang perahu mereka dan Yesus tidur di buritan, para murid membangunkan-Nya dan menyebut-Nya tidak peduli (Mrk. 4:38). Yang kedua adalah Marta. Meski tidak termasuk ke dalam 12 murid, Marta adalah salah satu sahabat terdekat Yesus. Saat itu, Marta kerepotan menjamu para murid dan ia merasa kesal karena melihat Maria, saudarinya, hanya duduk mendengarkan Yesus mengajar. la menyebut Yesus tidak peduli melihat dirinya repot sementara Maria tidak membantunya (Luk. 10:40). Mengapa mereka bisa berpikir Yesus tak peduli? Di mata para murid, mereka merasa Yesus hanya peduli diri-Nya sendiri karena tetap tidur saat semuanya sibuk menguras perahu yang kemasukan air. Di mata Marta, Yesus tidak menganggap penting susah payah Marta dalam menjamu para tamunya itu. Respons Yesus terhadap tuduhan itu memberi alasan sebenarnya. Kekhawatiran (Luk. 10:41) dan ketakutan (Mrk. 4:40) membuat mereka merasa Yesus seolah tidak peduli.

    Demikian juga ketika kita merasa Tuhan diam saja, ketika kita merasa Tuhan bahkan tidak peduli pada kita. Daripada menuduh Dia, periksalah diri kita. Bukankah kekhawatiran dan ketakutan kita yang bicara demikian? Kekhawatiran sering kali muncul karena kita tidak mengenal Tuhan dengan benar. Karena itulah, Yesus berkata, daripada khawatir, carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya (Mat. 6:33). Orang yang tidak mengenal Allah akan sibuk dengan kekhawatirannya (Mat. 6:31-32). Namun, ketika kita benar-benar mengenal Allah, kita tahu bahwa la tidak akan membiarkan kita. Kita juga akan bisa melihat apa yang ada di hadapan kita dengan cara yang benar. Tuhan Yesus memberkati.

    Doa:

    Tuhan Yesus, lepaskanlah aku dari rasa ketakutan dan kekhawatiran yang menyebabkan aku meragukan kuasa-Mu. Tambahkan imanku sehingga aku percaya bahwa Engkau lebih besar dari ketakutan dan kekhawatiranku. Amin. (Dod).

  • Kencan Dengan Tuhan - Senin, 15 Juni 2026

    Bacaan:

    Adapun anak-anak lelaki Eli adalah orang-orang dursila; mereka tidak mengindahkan TUHAN." (1 Samuel 2:12)

    Renungan:

    Setiap anak memiliki karakter dan sifat yang khas. Itu betul. Namun sifat anak kita menjadi seperti apa, itu sangat tergantung bagaimana kita mendidik dan mengajarnya. Jangan berkata, "Anak saya memang bawaannya seperti itu." Sifat dan karakter anak kita tidak bertumbuh dengan sendirinya, kitalah yang menentukan seperti apa sifat dan karakter anak kita. Ibarat kertas kosong, kitalah yang mengisi atau melukis kehidupan anak-anak kita dengan nilai-nilai kehidupan yang kita tanamkan kepadanya sejak dini.

    Mengapa seorang anak minder dan tidak percaya diri? Apakah karena bawaan? Tidak! Karena orang tuanya tidak memberinya semangat dan penghargaan. Mengapa ada anak yang pelitnya luar biasa? Karena orang tuanya tidak pernah mengajar dan memberi contoh bagaimana memberi dan berbagi. Mengapa ada anak yang pengecut? Karena kita selalu membelanya, tidak peduli benar atau salah. Mengapa ada anak yang selalu berusaha cari perhatian? Karena kita tidak cukup memberi perhatian dan kasih sayang kepadanya. Mengapa ada anak yang selalu mengeluh? Karena kita tak mengajarnya untuk selalu bersyukur.

    Mengapa Hofni dan Pinehas yang adalah anak seorang imam justru menjadi anak-anak dursila? Karena imam Eli ayahnya tidak mendidiknya dengan benar. Imam Eli terlalu lembek, acuh, dan tak tegas dalam mendidik anak-anaknya. Bandingkan dengan Timotius yang hidup dalam didikan iman, baik oleh ibu dan neneknya. Bagaimana cara kita mendidik anak, itulah yang membuat perbedaan, akankah kita melahirkan anak-anak hebat dengan karakter yang kuat, ataukah kita akan melahirkan anak-anak gampang dengan karakter buruk? Jika anak kita bertumbuh dengan karakter yang buruk, pertama-tama yang patut disalahkan bukanlah anak kita tapi justru kita sebagai orang tua. Mengapa? Karena tanggung jawab dalam mendidik anak sepenuhnya ada di tangan kita. Kita tidak bisa membiarkan anak kita bertumbuh dengan sendirinya, lalu berharap bahwa anak kita bertumbuh menjadi anak hebat dengan karakter yang hebat pula. Tuhan Yesus memberkati.

    Doa:

    Tuhan Yesus, berilah aku kuasa penuh untuk mendidik anak-anak yang Kau percayakan padaku, sehingga aku dapat mendidik mereka menjadi anak-anak yang memiliki karakter seperti Engkau. Amin. (Dod).

  • Kencan Dengan Tuhan - Minggu, 14 Juni 2026

    Bacaan:

    Sikap yang tenang memanjangkan umur; iri hati memendekkannya." (Amsal 14:30)

    Renungan:

    Kesehatan tubuh kita memang sangat berkaitan dengan suasana hati kita. Ini bukan karena faktor makanan atau gaya hidup yang tidak sehat saja, melainkan lebih dari itu, yaitu tidak menjaga hati. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa stres dan kondisi emosional yang tidak seimbang dapat berdampak negatif pada kesehatan fisik seseorang. Hal ini disebabkan oleh adanya hubungan yang kompleks antara pikiran, emosi, dan tubuh manusia. Ketika seseorang mengalami stres atau ketidakseimbangan emosional, sistem kekebalan tubuhnya dapat terpengaruh, meningkatkan risiko terkena berbagai penyakit.

    Hati yang tenang merupakan kondisi ketika ia tenang, damai, dan tenteram. Amsal 4:23 menyatakan "Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan". Hati yang tenang dapat diartikan sebagai hati yang kudus, bebas dari dosa seperti kepahitan, dendam, iri hati, kesombongan. Tuhan mengingatkan kita untuk menjaga hati karena hati yang bersih membawa ketenangan. Orang benar merasakan damai sejahtera, ketenangan, dan ketenteraman abadi karena "Di mana ada kebenaran di situ akan tumbuh damai sejahtera, dan akibat kebenaran ialah ketenangan dan ketenteraman untuk selama-lamanya (Yes. 32:17). Karena itu, menjaga hati agar tetap bersih dan penuh dengan kebenaran adalah kunci untuk mencapai ketenangan batin.

    Mari kita berusaha hidup benar sehingga hidup kita menjadi tenang dan tentram. Biarlah kita selalu menjaga hati kita agar tetap tenang dan serahkanlah segala kekhawatiran kita kepada Tuhan karena Tuhan yang lebih mengetahui segala isi hati kita. Sementara itu, kita juga berjalan di dalam kebenaran firman-Nya. Itulah yang akan menyegarkan tubuh, jiwa, dan hati kita. Hanya dekat Tuhan saja hati kita akan tenang karena hati yang tenang akan memperoleh kesegaran jiwa dan raga. Tuhan Yesus memberkati.

    Doa:

    Tuhan Yesus, lepaskanlah kepahitan dari dalam hatiku, agar damai sejahtera-Mu menguasai hatiku. Amin. (Dod).

  • Kencan Dengan Tuhan - Sabtu, 13 Juni 2026

    Bacaan:

    "Beberapa hari kemudian orang Yahudi merundingkan suatu rencana untuk membunuh Saulus. " (Kisah Para Rasul 9:23)

    Renungan:

    Bukan hal mudah orang dapat menerima perubahan sesamanya dari tidak baik menjadi baik. Ibarat orang pernah punya "borok" (luka), sekalipun sudah sembuh, kebanyakan orang selalu melihat bekas lukanya daripada sembuhnya. Demikian juga, orang yang pernah berbuat salah dan sudah bertobat, kesalahan masa lalunya selalu dilihat dan diingat. Menjadi orang yang diragukan dan selalu dilihat kesalahan-kesalahan pada masa lalunya memang sangat tidak enak. Karena keadaan ini bisa mengganggu semangat yang bersangkutan dalam berkarya.

    Jangankan kita, pertobatan Saulus juga pernah diragukan. Pada masa lalu, Saulus memang penganiaya jemaat Tuhan, banyak merusak rumah ibadah dan membunuh orang-orang yang percaya kepada Kristus. Akan tetapi setelah Saulus bertemu Tuhan Yesus dalam perjalanan ke Damsyik untuk menangkap para pengikut Kristus, Saulus bertobat. Kemudian, ia memberitakan bahwa Yesus adalah anak Allah. Akibatnya, orang-orang yang pernah melihat dan mengenal latar belakang Saulus heran, setengah tidak percaya alias ragu akan perbuatannya. Bahkan orang-orang Yahudi juga merundingkan suatu rencana untuk membunuh Saulus. Akan tetapi, sekalipun Saulus diragukan pertobatannya dan hendak dibunuh, ia tetap bekerja memberitakan Injil. Hasilnya, jemaat bertumbuh. Jemaat di seluruh Yudea, Galilea, dan Samaria berada dalam keadaan damai. Oleh pertolongan Roh Kudus jumlahnya terus bertambah.

    Apakah pertobatan kita diragukan dan mereka selalu melihat kekurangan-kekurangan atau kesalahan-kesalahan yang kita perbuat pada masa lalu? Kalaupun demikian, janganlah situasi tersebut membuat diri sendiri kehilangan semangat untuk terus bekerja. Tunjukkan perubahan kita dengan tetap bekerja sepenuh hati dalam situasi apapun, dan percayalah Roh Kudus akan menolong kita untuk meraih keberhasilan. Tuhan Yesus memberkati.

    Doa:

    Tuhan Yesus, kuduskanlah pikiranku, sehingga aku tetap melihat dan berpikir hal yang baik dari setiap pribadi yang sudah bertobat. Jadikanlah mataku seperti mata-Mu, mata yang selalu melihat hal yang baik dalam diri setiap orang. Amin. (Dod).

  • Kencan Dengan Tuhan - Jumat, 12 Juni 2026

    Bacaan:

    "Sebab tujuh kali orang benar jatuh, namun ia bangun kembali tetapi orang fasik akan roboh dalam bencana." (Amsal 24:16)

    Renungan:

    Kita mungkin sering mendengar kisah Thomas Alva Edison yang konon mengalami 1000 kegagalan sebelum akhirnya berhasil menciptakan bola lampu. Kita juga mendengar tentang JK Rowling yang naskah Harry Potter karangannya ditolak banyak penerbit sebelum akhirnya diterbitkan satu penerbit kecil dan sukses menjadikannya penulis terkaya dalam sejarah. Kita juga mendengar kisah Soichiro Honda yang berkali-kali gagal, terkena bencana alam, perang, dsb, sebelum akhirnya bisa mendirikan perusahaan otomotif Honda.

    Jika bertanya kepada para tokoh sukses, hampir selalu mereka mengalami lebih banyak kegagalan daripada keberhasilan. Di sinilah uniknya. Mereka bisa mengalami banyak kegagalan (dan berusaha lagi), tapi hanya dibutuhkan satu keberhasilan untuk mereka dapat sukses membuat perubahan besar. Kegagalan juga sering kali menjadi pengalaman penting yang menjadi titik balik orang meraih keberhasilannya. Sayang, lebih banyak orang yang begitu takut dan berusaha menghindari kegagalan. Banyak orang takut melakukan sesuatu yang berpotensi membuat mereka dikritik. Banyak orang tidak berani mencoba hal yang belum pernah dilakukan orang lain, sehingga ada kemungkinan untuk gagal. Dan salah satu cara yang sering dilakukan orang untuk menghindari hal-hal tersebut adalah dengan tak mau mencoba, tak mau berusaha, dan memilih diam.

    Banyak orang merasa mengalami satu kegagalan akan membuat mereka gagal selamanya. Padahal, yang terjadi justru sebaliknya. Kegagalan bukanlah kata akhir. Amsal berkata, orang benar pun bisa jatuh atau gagal. Tak hanya sekali, tapi tujuh kali. Dalam budaya Yahudi, tujuh kali menunjukkan jumlah tak terhingga. Artinya, sekalipun kita sudah hidup benar, meski kita sudah melakukan yang terbaik, kegagalan masih bisa terjadi. Tapi, poin pentingnya adalah kita masih bisa bangkit kembali. Berapa kali Yusuf diperlakukan tak adil? Berapa banyak Daud hampir mati terbunuh? Jumlah masalah mereka jauh lebih banyak dari jumlah kemenangan mereka! Tapi, karena mereka tetap bangkit, maka kita kini mengenang mereka sebagai pribadi yang berkemenangan. Kita pun bisa mengalaminya! Tuhan Yesus memberkati.

    Doa:

    Tuhan Yesus, berilah aku semangat untuk bangkit lagi saat aku jatuh terpuruk karena suatu masalah. Jangan biarkan masalah membuat aku meragukan kuasa-Mu. Yesus, Engkaulah andalanku. Amin. (Dod).

  • Kencan Dengan Tuhan - Kamis, 11 Juni 2026

    Bacaan:

    "..... janganlah kamu memikirkan perkara-perkara yang tinggi, tetapi arahkanlah dirimu kepada perkara-perkara yang sederhana....." (Roma 12:16)

    Renungan:

    Ketika kita bercita-cita menjadi seorang penulis, ada dua hal yang harus kita lakukan. Pertama, kita harus banyak menulis. Kedua, kita harus banyak membaca. Ya, penulis harus banyak membaca, seperti juga musisi harus banyak mendengarkan musik, sineas harus banyak menonton film, barista harus suka minum kopi, dst. Pertanyaannya, buku apa yang harus dibaca agar kita bisa menjadi penulis yang baik? Seorang penulis memberi nasihat cukup unik, la menyarankan membaca dua jenis buku: buku yang benar-benar bagus dan buku yang benar-benar jelek. Membaca buku yang sangat bagus tentu agar kita terinspirasi dan bisa membuat tulisan yang makin berkualitas. Bagaimana dengan membaca buku yang sangat jelek? Menurut penulis itu, buku yang sangat jelek juga bisa membuat kita termotivasi. "Jika tulisan sejelek itu saja ada yang mau menerbitkan, tulisan kita pasti bisa diterbitkan juga." Ada benarnya juga. Nyatanya, kita sering kali takut, bahkan putus asa karena yang kita lihat saat baru memulai sesuatu hanyalah orang-orang yang sudah ada di level sangat tinggi. Kita berhenti menulis karena tidak bisa menulis sebaik peraih Nobel Sastra. Kita berhenti menjadi musisi karena minder melihat keahlian para musisi kelas nasional bahkan internasional. Kita putus asa karena usaha yang kita rintis tidak kunjung sebesar perusahaan top. Maka, ada kalanya kita perlu juga melihat kepada hal-hal yang lebih "membumi". Bukan berarti menurunkan standar atau tak punya cita-cita tinggi. Kadang kita memang harus melihat ke atas, tapi penting juga untuk bisa melihat ke samping atau ke bawah. Keseimbangan seperti ini perlu supaya kita tidak jatuh menjadi hidup sekadar mengejar ambisi yang tak pernah habis-habisnya. Melihat ke hal-hal yang di bawah atau di sekitar, juga membuat kita bisa lebih bersyukur daripada hanya mengeluh karena kondisi kita tidak seperti orang lain.

    Kepada jemaat di Roma, Paulus dua kali mengingatkan mereka untuk tidak hanya memikirkan hal-hal yang tinggi (Rm. 12:3, 16), tapi mengarahkan pikiran ke hal sederhana agar tetap rendah hati. Tak ada yang salah dengan memiliki cita-cita besar, tapi jangan sampai kita lalu menjadi tak menghargai hal-hal kecil dan sederhana, karena itupun adalah berkat Tuhan untuk kita. Tuhan Yesus memberkati.

    Doa:

    Tuhan Yesus, ajarilah aku untuk selalu bersyukur atas hal-hal besar dan kecil dalam hidupku karena semua itu adalah berkat-Mu yang Kau berikan untukku. Amin. (Dod).

  • Kencan Dengan Tuhan - Rabu, 10 Juni 2026

    Bacaan:

    Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu la tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu." (1 Korintus 10:13)

    Renungan:

    Ketika seorang guru memberi pertanyaan kepada muridnya, sesungguhnya guru tersebut bertanya bukan karena tidak tahu. Sang guru bertanya untuk menguji seperti apa pemahaman muridnya. Guru tersebut sebenarnya sudah punya jawaban dari pertanyaan yang ia berikan. Demikian juga halnya dengan hidup kita. Ketika Tuhan mengizinkan masalah, pergumulan, dan persoalan hidup datang dalam hidup kita, sesungguhnya Tuhan pun sudah punya solusi untuk tiap masalah yang kita hadapi. Dalam 1 Korintus 10:13 dikatakan, "Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu la tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. " Artinya, Tuhan sudah menakar masalah kita dan memastikan bahwa ujian hidup itu sudah terukur. Seorang guru tidak mungkin memberikan soal siswa SMU kepada siswa SD, bukan? Demikianlah Tuhan sudah mengetahui bahwa masalah kita ada di dalam kesanggupan kita. Berikutnya dikatakan bahwa, "Pada waktu kamu dicobai la akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya." Kita yang dicobai, tapi Tuhan yang memberikan jalan keluar. Itu sebabnya, saat kita menghadapi masalah maka sudah seharusnya alamat pertama yang kita tuju adalah Tuhan. Ayat tersebut berkata dengan jelas bahwa Tuhanlah yang akan memberi jalan keluar, bukan orang lain, bukan juga diri kita sendiri. Tuhan memberi jalan keluar karena jawaban dari segala persoalan hidup kita sudah ada di tangan-Nya. Jika kita masih mencari-cari jawaban di luar Tuhan, alangkah bodohnya kita.

    Apakah saat ini kita sedang berhadapan dengan masalah besar? Jangan takut. Jangan khawatir. Serahkan masalah kita kepada Tuhan. Percayalah kepada-Nya dan jangan bersandar pada pengertian kita sendiri. Ketika kita mengandalkan Tuhan, kita akan melihat bagaimana dengan cara ajaib Tuhan akan menolong dan memberikan jalan keluar kepada kita. Tuhan Yesus memberkati.

    Doa:

    Tuhan Yesus, terima kasih untuk firman-Mu yang menguatkan hatiku. Tambahkanlah imanku agar aku semakin percaya dan mengandalkan Engkau saat masalah melanda hidupku. Amin. (Dod).

  • Kencan Dengan Tuhan - Selasa, 9 Juni 2026

    Bacaan:

    "Jadi kami ini adalah utusan-utusan Kristus, seakan-akan Allah menasihati kamu dengan perantaraan kami." (2 Korintus 5:20)

    Renungan:

    Sebelum sebuah film diluncurkan, biasanya produsen film akan meluncurkan lebih dulu trailernya. Di trailer yang biasanya hanya berdurasi 1-3 menit ini, ditampilkan cuplikan-cuplikan sebuah film yang dimaksudkan untuk membuat orang tertarik menonton filmnya. Membuat trailer ini tak mudah. Narasi yang disampaikan, cuplikan adegan yang dipilih ditampilkan, musik yang ditampilkan, harus menarik dan membuat orang yang melihat penasaran untuk menonton. Tidak heran, untuk film yang sudah ditunggu-tunggu banyak orang, trailernya bisa dirilis sejak setahun sebelum filmnya tayang, dibuat dalam beberapa versi, dan menjadi pembahasan tersendiri oleh para fans film itu. Bahkan ada penghargaan untuk trailer terbaik di beberapa festival film. Jika trailernya menarik, filmnya juga harus benar-benar menarik atau orang akan merasa tertipu. Sebaliknya, film bagus tapi trailernya buruk juga patut disayangkan.

    Sadarkah kita bahwa kehidupan kita juga ibarat sebuah trailer film? Orang-orang melihat hidup kita, bagaimana sikap dan karakter kita, bagaimana keputusan-keputusan kita, cara kita merespons segala sesuatu, dan prioritas hidup kita. Sebagai pengikut Kristus, semua itu ibarat trailer tentang Kristus yang kita ikuti. Alkitab berkata bahwa kita adalah utusan Kristus (2 Kor. 5:20). Orang percaya adalah ibarat surat Kristus yang bisa dibaca semua orang (2 Kor. 3:2-3). Sebelum benar-benar mengenal Kristus, maka orang dunia akan melihat terlebih dulu hidup kita, sikap kita, dan keputusan-keputusan yang kita buat. Apakah ucapan kita membuat orang tertarik datang pada Kristus? Ataukah tindakan kita justru membuat orang ilfeel dengan Kristus dan kekristenan? Melalui kitalah, orang dunia mendapatkan kesan pertama tentang Kristus. Dan jika trailer film kadang lebih menarik dari film aslinya, tidak demikian dengan Kristus. Ketika seseorang tertarik melihat hidup seorang Kristen yang dipenuhi damai sejahtera, sukacita, dan kasih, sehingga ia membuka hati untuk Kristus secara pribadi, maka ia akan mendapati hal yang jauh lebih indah lagi! Nah, sudahkah kita menjalankan peran kita sebagai trailernya Tuhan? Tuhan Yesus memberkati.

    Doa:

    Tuhan Yesus, jadikanlah aku alat-Mu, sehingga melalui kehadiranku banyak orang tertarik untuk mengenal dan mengikut-Mu. Amin.

  • Kencan Dengan Tuhan - Senin, 8 Juni 2026

    Bacaan:

    "Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN!" (Yeremia 17:7)

    Renungan:

    Seorang penebang pohon dari desa terpencil membeli gergaji mesin karena orang-orang berkata gergaji itu akan membuat pekerjaannya lebih cepat dan rapi. Tapi, beberapa hari kemudian ia kembali ke toko yang menjual gergaji itu dengan marah. "Gergaji apa ini! Pekerjaan saya malah tidak selesai-selesai dan hasilnya buruk!" Pemilik toko mengamati gergaji itu. Apakah rusak? Pikirnya. la menarik tuasnya dan gergaji itu menyala lancar. Penebang pohon itu tersentak. "Suara apa itu?" Rupanya, selama ini ia memakai gergaji mesin itu seperti gergaji manual, tanpa dinyalakan mesinnya!

    Banyak di antara kita sama saja seperti penebang pohon di cerita tadi. Ini terjadi saat kita mencoba mengubah hidup kita dengan mengandalkan kekuatan sendiri. Ini terjadi ketika kita menghadapi masalah dan berusaha mengatasinya dengan cara kita sendiri. Pada akhirnya kita hanya akan kelelahan dan hasilnya pun jauh dari apa yang kita harapkan. Padahal, ada cara yang jauh lebih baik yaitu dengan mengandalkan kekuatan Tuhan. Jika gergaji mesin dapat memotong kayu dengan jauh lebih cepat dan rapi karena memakai teknologi mesin, maka mengandalkan kekuatan Tuhan juga akan membuat hidup kita berubah dengan lebih sempurna.

    Ketika Daud terjepit dan tak ada yang bisa menolongnya lagi, ia menguatkan kepercayaannya kepada Allah (1 Sam. 30:6). Ketika Simson sudah kehilangan kekuatan dan penglihatannya, bahkan menjadi bahan olok-olokan orang Filistin, ia berdoa minta kekuatan dari Tuhan dan di momen itulah ia berhasil menewaskan lebih banyak orang Filistin dibanding saat ia masih kuat (Hak. 16:28-30). Paulus pun memiliki apa yang ia sebut sebagai "duri dalam daging". Namun, ia justru bisa bermegah dalam kelemahannya itu, karena ia tahu kuasa Kristus turun atasnya (2 Kor. 12:7-10). Contoh-contoh itu menunjukkan betapa bodohnya jika berpikir kita bisa mengandalkan kekuatan sendiri. Kita hanya akan kelelahan, depresi, putus asa, dan tak puas. Andalkan dan berharaplah pada Tuhan, sebab dari Dialah berkat itu datang. Turuti petunjuk-Nya karena Dia saja yang tahu masa depan kita dan berkuasa atas hidup kita! Tuhan Yesus memberkati.

    Doa:

    Tuhan Yesus, ajarilah aku untuk senantiasa mengandalkan Engkau dalam setiap permasalahan hidupku, sehingga aku tetap kuat dan punya pengharapan. Amin. (Dod).

  • Kencan Dengan Tuhan - Minggu, 7 Juni 2026

    Bacaan:

    Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasehatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran." (2 Timotius 4:2)

    Renungan:

    Ada seorang tentara yang bercerita bahwa selama karir militernya, sudah berkali-kali ia ditugaskan ke daerah konflik. Setiap kali akan berangkat, kesedihan mendalam dirasakannya karena harus berpisah dengan keluarga. Hal yang membuatnya sedih bukanlah perpisahan itu sendiri, melainkan kenyataan kalau ia bisa saja kelak pulang tinggal nama karena gugur dalam tugas. Namun, ia amat memahami tugas dan kewajibannya sebagai tentara sehingga ia tetap berangkat menunaikan tugas.

    Seperti tentara yang selalu siap sedia melakukan tugas yang diamanatkan padanya, demikian juga kita sebagai orang percaya harus selalu siap sedia melakukan tugas yang diamanatkan oleh Tuhan. Salah satu tugas tersebut adalah memberitakan firman. Sayangnya, banyak orang percaya yang masih beranggapan bahwa tugas tersebut merupakan tugas pastor, biarawan, biarawati, guru agama, dan para aktivis gereja. Pemikiran ini tentu saja keliru! Sebab, sesungguhnya Tuhan mempercayakan tugas memberitakan firman kepada semua orang yang telah menerima keselamatan kekal dari-Nya. Artinya, apapun profesi yang kita geluti, memberitakan firman dalam kehidupan sehari-hari adalah keharusan. Sekalipun kita adalah seorang ibu rumah tanggap sepenuh waktu, kita juga harus melakukannya.

    Memberitakan firman tidak identik dengan pengkhotbah mimbar, akan tetapi hal yang Tuhan inginkan adalah kita menceritakan tentang Tuhan Yesus kepada orang-orang di sekitar kita, melalui tutur kata; sikap dan perbuatan; pola pikir; etos kerja; dan seluruh hidup kita. Singkat kata, memberitakan firman adalah menunjukkan kehidupan yang mencerminkan kasih dan karakter Kristus. Dengan demikian, tidak ada lagi alasan bagi kita untuk tidak melakukan panggilan Tuhan, yaitu memberitakan firman-Nya sampai keujung bumi. Tuhan Yesus memberkati.

    Doa:

    Tuhan Yesus, urapilah seluruh keberadaan diriku, agar melalui pikiran, perkataan, perasaan dan perbuatanku aku dapat mewartakan kasih-Mu, sehingga banyak orang semakin mengenal Engkau sebagai Sang Sumber Kasih dan keselamatan. Amin. (Dod).