Avsnitt
-
Dibacakan oleh Febrian -
Seno Gumira Ajidarma (lahir 1958) adalah salah satu sastrawan paling disegani dalam sejarah sastra Indonesia modern seorang penulis yang menjadikan kata-kata bukan sekadar medium estetika, tetapi juga alat perlawanan.
Di tengah era ketika kebenaran kerap dibungkam, Seno hadir sebagai suara yang tak bisa disenyapkan. Melalui cerpen, novel, dan esainya, ia meretas batas antara jurnalisme dan sastra, menciptakan bentuk narasi yang tajam, puitis, sekaligus mengguncang. Karyanya “Saksi Mata” bukan hanya karya sastra melainkan arsip keberanian, merekam realitas yang tak diberi ruang untuk diucapkan.
Ia dikenal dengan pernyataan legendarisnya: “Ketika jurnalisme dibungkam, sastra harus bicara.” Sebuah credo yang tidak hanya diucapkan, tetapi dijalankan dengan konsistensi intelektual dan keberanian moral.
Gaya bertuturnya yang eksperimental, sinis, dan penuh lapisan menjadikan Seno bukan hanya penulis, tetapi juga arsitek wacana membentuk cara kita membaca realitas, kekuasaan, dan kemanusiaan. Ia berdiri di antara fakta dan fiksi, menjadikan keduanya saling menegaskan.
Sebagai jurnalis, akademisi, dan intelektual publik, Seno Gumira Ajidarma telah menempatkan dirinya sebagai pilar penting dalam lanskap sastra Indonesia bukan hanya karena karya-karyanya, tetapi karena keberanian untuk tetap bersuara ketika banyak memilih diam.
-
Dibacakan oleh Febrian
Seno Gumira Ajidarma (lahir 1958) adalah salah satu sastrawan paling disegani dalam sejarah sastra Indonesia modern seorang penulis yang menjadikan kata-kata bukan sekadar medium estetika, tetapi juga alat perlawanan.
Di tengah era ketika kebenaran kerap dibungkam, Seno hadir sebagai suara yang tak bisa disenyapkan. Melalui cerpen, novel, dan esainya, ia meretas batas antara jurnalisme dan sastra, menciptakan bentuk narasi yang tajam, puitis, sekaligus mengguncang. Karyanya “Saksi Mata” bukan hanya karya sastra melainkan arsip keberanian, merekam realitas yang tak diberi ruang untuk diucapkan.
Ia dikenal dengan pernyataan legendarisnya: “Ketika jurnalisme dibungkam, sastra harus bicara.” Sebuah credo yang tidak hanya diucapkan, tetapi dijalankan dengan konsistensi intelektual dan keberanian moral.
Gaya bertuturnya yang eksperimental, sinis, dan penuh lapisan menjadikan Seno bukan hanya penulis, tetapi juga arsitek wacana membentuk cara kita membaca realitas, kekuasaan, dan kemanusiaan. Ia berdiri di antara fakta dan fiksi, menjadikan keduanya saling menegaskan.
Sebagai jurnalis, akademisi, dan intelektual publik, Seno Gumira Ajidarma telah menempatkan dirinya sebagai pilar penting dalam lanskap sastra Indonesia bukan hanya karena karya-karyanya, tetapi karena keberanian untuk tetap bersuara ketika banyak memilih diam.
-
Saknas det avsnitt?
-
Kuntowijoyo (1943–2005) adalah sastrawan, sejarawan, dan intelektual Indonesia yang dikenal karena karya-karyanya yang memadukan sastra, sejarah, dan pemikiran Islam.
Ia lahir di Yogyakarta dan menempuh pendidikan hingga meraih gelar Ph.D di bidang sejarah dari University of Michigan. Dalam dunia sastra, Kuntowijoyo menulis cerpen, novel, puisi, dan esai—dengan gaya yang reflektif, filosofis, dan sering mengangkat realitas sosial serta spiritual masyarakat Indonesia.
Beberapa karyanya yang terkenal antara lain “Khotbah di Atas Bukit”, “Pasar”, dan kumpulan cerpen “Dilarang Mencintai Bunga-Bunga”. Selain itu, ia juga dikenal lewat gagasan “Ilmu Sosial Profetik”, yang menggabungkan nilai-nilai keilmuan dengan etika dan spiritualitas.
Kuntowijoyo dianggap sebagai salah satu tokoh penting dalam perkembangan sastra dan pemikiran intelektual Indonesia modern.
-
Fragmen Sisipan - Umar Kayam (Diambil dari Kumcer Seribu Kunang-Kunang di Manhattan)
Umar Kayam (1932–2002) adalah seorang intelektual multitalenta Indonesia yang dikenal sebagai sosiolog, budayawan, dan sastrawan terkemuka. Lahir di Ngawi, Jawa Timur, ia meraih gelar doktor dari Cornell University dan menjadi Guru Besar di Universitas Gadjah Mada (UGM). Selain dedikasinya di dunia akademik, ia memiliki pengaruh besar dalam birokrasi dan kebijakan budaya nasional, termasuk saat menjabat sebagai Direktur Jenderal Radio, Televisi, dan Film serta memimpin Dewan Kesenian Jakarta.Dalam dunia sastra, ia menciptakan terobosan melalui kumpulan cerpen Seribu Kunang-kunang di Manhattan (1972) yang berhasil memotret alienasi manusia di tengah megapolitan New York dengan gaya bahasa yang modern dan jernih. Karya-karyanya sering kali mengeksplorasi benturan budaya serta dinamika sosial, seperti dalam novel legendaris Para Priyayi yang mengupas tuntas struktur sosial masyarakat Jawa. Melalui esai-esainya dalam Mangan Ora Mangan Kumpul, Umar Kayam mengukuhkan dirinya sebagai pengamat budaya yang mampu menyampaikan pemikiran mendalam dengan sentuhan humor yang akrab bagi masyarakat luas.
-
Fragmen Sisipan - Umar Kayam (Diambil dari Kumcer Seribu Kunang-Kunang di Manhattan)
Umar Kayam (1932–2002) adalah seorang intelektual multitalenta Indonesia yang dikenal sebagai sosiolog, budayawan, dan sastrawan terkemuka. Lahir di Ngawi, Jawa Timur, ia meraih gelar doktor dari Cornell University dan menjadi Guru Besar di Universitas Gadjah Mada (UGM). Selain dedikasinya di dunia akademik, ia memiliki pengaruh besar dalam birokrasi dan kebijakan budaya nasional, termasuk saat menjabat sebagai Direktur Jenderal Radio, Televisi, dan Film serta memimpin Dewan Kesenian Jakarta.Dalam dunia sastra, ia menciptakan terobosan melalui kumpulan cerpen Seribu Kunang-kunang di Manhattan (1972) yang berhasil memotret alienasi manusia di tengah megapolitan New York dengan gaya bahasa yang modern dan jernih. Karya-karyanya sering kali mengeksplorasi benturan budaya serta dinamika sosial, seperti dalam novel legendaris Para Priyayi yang mengupas tuntas struktur sosial masyarakat Jawa. Melalui esai-esainya dalam Mangan Ora Mangan Kumpul, Umar Kayam mengukuhkan dirinya sebagai pengamat budaya yang mampu menyampaikan pemikiran mendalam dengan sentuhan humor yang akrab bagi masyarakat luas.
-
Fragmen Sisipan - Umar Kayam (Diambil dari Kumcer Seribu Kunang-Kunang di Manhattan)
Umar Kayam (1932–2002) adalah seorang intelektual multitalenta Indonesia yang dikenal sebagai sosiolog, budayawan, dan sastrawan terkemuka. Lahir di Ngawi, Jawa Timur, ia meraih gelar doktor dari Cornell University dan menjadi Guru Besar di Universitas Gadjah Mada (UGM). Selain dedikasinya di dunia akademik, ia memiliki pengaruh besar dalam birokrasi dan kebijakan budaya nasional, termasuk saat menjabat sebagai Direktur Jenderal Radio, Televisi, dan Film serta memimpin Dewan Kesenian Jakarta.Dalam dunia sastra, ia menciptakan terobosan melalui kumpulan cerpen Seribu Kunang-kunang di Manhattan (1972) yang berhasil memotret alienasi manusia di tengah megapolitan New York dengan gaya bahasa yang modern dan jernih. Karya-karyanya sering kali mengeksplorasi benturan budaya serta dinamika sosial, seperti dalam novel legendaris Para Priyayi yang mengupas tuntas struktur sosial masyarakat Jawa. Melalui esai-esainya dalam Mangan Ora Mangan Kumpul, Umar Kayam mengukuhkan dirinya sebagai pengamat budaya yang mampu menyampaikan pemikiran mendalam dengan sentuhan humor yang akrab bagi masyarakat luas.
-
Sugiarti Siswadi, sepanjang tahun 1960an menjadi bagian dari anggota pimpiman pusat Lekra. Sugiarti pernah menjadi co-editor di majalah Api Kartini, dan menerbitkan sejumlah tulisannya di Harian Rakjat. Cerpen "Sorga di Bumi" merupakan karya yang ia terbitkan di Harian Rakjat pada masanya menjabat sebagai anggota Lekra. Sugiarti merupakan perempuan yang vokal dan lantang membicarakan betapa pentingnya pengembangan sastra anak. Ia meyakini bahwa pengembangan sastra anak mampu juga menjadi tonggak masa depan nilai-nilai kerakyatan di masyarakat.
Perjuangan Sugiarti dalam merancang gagasan kerakyatan pada sastra dan perbukuan berlangsung sampai dengan 1965. Pemerintah orde baru turut membatasi riwayat pergerakan Sugiarti sebagai anggota Lekra, sampai dengan melarang peredaran tulisannya pada masa itu.
-
Dibacakan oleh Febrian.
-
Bachtiar Siagian merupakan seorang sutradara film dan penulis poros kiri pada masanya. Ia bergabung dan menjadi salah satu figur Lekra pada tahun 1950. Karyanya yang berjudul Turang (1957) berhasil meraih empat penghargaan di Festival Film Indonesia tahun 1960.
Pada masa Soeharto mulai berkuasa, Siagian sedang berada di Jepang dalam proyek pembuatan dokumenter. Sekembalinya ke Indonesia, otoritas negara telah menjadikannya buron dan akan membayar mahal untuk penangkapannya.
Siagian ditangkap dan menjadi tahanan politik pada tahun 1966, ia dilarang menerbitkan karya di berbagai media, dan baru dibebaskan pada tahun 1977. Selama menjadi tapol, ia banyak menuliskan karya dan manuskrip film secara anonim.
-
Dibacakan oleh Febrian
-
Harsono Setiadi adalah seorang penulis puisi yang berasal dari Banyuwangi yang lebih dikenal dengan nama pena Nusananta. Kuliah Hukum Ekonomi Sosial Politik (HESP) di Pagelaran. Sesudah bergelar doktorandus, pada tahun 1965 ia menjadi kepala jawatan kebudayaan di Semarang, Jawa Tengah.
Seiring terjadinya Peristiwa G30S, ia ditangkap karena ketokohannya di dalam Himpunan Sarjana Indonesia (HIS) cabang Semarang, kemudian dibuang ke Pulau Buru, dan meninggal tak lama sesudah ‘dikembalikan ke masyarakat’ pada tahun 1978 di Yogyakarta.
-
Dibacakan oleh Dea
-
Ratna Indraswari Ibrahim merupakan penulis perempuan Indonesia kelahiran 24 April 1949. Pada masa kanak-kanak, Ratna menderita radang tulang yang mengakibatkan kedua kaki dan tangannya tidak berfungsi. Hal inilah yang menyebabkan Ratna harus menjalani semua aktivitas kehidupannya dengan duduk di atas kursi roda semenjak berusia 10 tahun.
Walaupun kemampuan fisiknya sangat terbatas, namun ia mampu melahirkan karya sastra secara produktif. Kesetiaan untuk terus berkarya di dunia sastra ditandai dengan lebih dari 400 karya cerpen dan novel yang ia hasilkan sejak usia remaja hingga akhir hayatnya di usia 62 tahun.
Kemanusiaanlah yang menjadikan Ratna tetap menulis. Cerpen-cerpen Ratna senantiasa mengabarkan kepada kita bahwa ada penindasan dan ketidakadilan yang terjadi di sekitar kita. Dan cerpen adalah media yang dipilihnya untuk mengungkapkan perasaannya dalam melukiskan sebuah kisah.
Dalam sebuah artikel di situs jurnalperempuan.org, Ratna mengutip ucapan mendiang Ibunya, “Perempuan itu jangan ngobrol saja, perempuan itu harus menulis, menulis apa saja. Karena dengan menulis, ia dapat menemukan dirinya.”
-
Dibacakan oleh Nesha
-Nurhayati Srihardini Siti Nukatin atau lebih dikenal dengan nama pena Nh. Dini adalah seorang penulis kelahiran Semarang, 29 Februari 1936, yang menulis berbagai genre sastra, seperti puisi, drama, cerita pendek, dan novel. Siapa yang tak kenal beliau?
Budi Darma menyebutnya sebagai pengarang sastra feminis yang terus menyuarakan kemarahan kepada kaum laki-laki, padahal ia sendiri mengaku hanyalah seorang pengarang yang menuangkan realita kehidupan, pengalaman pribadi dan kepekaannya terhadap lingkungan ke dalam setiap tulisan-tulisannya.
Sementara menurut Putu Wijaya, ia adalah seorang pengarang yang menulis dengan telaten dan produktif, dengan ‘kebawelan yang panjang’.
Ia telah menulis lebih dari 20 buku dan kebanyakan karya-karyanya bercerita tentang wanita. Beberapa karya Nh Dini yang terkenal di antaranya adalah Pada Sebuah Kapal (1972), La Barka (1975), Namaku Hiroko (1977), dan kumpulan cerita Dua Dunia (1956) yang ia tulis saat memasuki usia SMA dan salah satu kisahnya dibacakan di Fragmen Ketiga Membacakan Cerpen ini.
-
Dibacakan oleh Dewi Michele
-
Omi Intan Naomi adalah penulis perempuan kelahiran Denpasar, 26 oktober 1970. Ia merupakan anak seorang budayawan Darmanto Yatman. Ia sudah menulis sejak usia 7 tahun dan merupakan salah satu penulis yang produktif pada masanya.
Karyanya banyak tersebar di media cetak dan beberapa diterbitkan dalam Kumpulan Sajak Omi (1986), Memori (1987), Puisi Cinta (1987), dan skripsinya yang kemudian diterbitkan sebagai buku berjudul Anjing Penjaga (Gorong-gorong Budaya dan ISAI, 1996), sebagai bentuk perlawanan terhadap orde baru.
Omi yang berparas cantik, cerdas, dan cakap banyak menghabiskan waktunya dalam kesendirian dan membangun website pribadinya www.geocities.ws/rainforestwind di mana ia banyak menuliskan perspektifnya mengenai budaya populer dan ketertarikannya pada budaya Jepang. Di website tersebut, Omi bisa menghabiskan sebagian besar waktunya untuk menulis dengan nama samaran Nina Wihelmina.
Kecerdasan dan luasnya wawasan Omi membuatnya hadir dalam salah satu kumpulan tulisan Korie Layun Rampai "Sastrawan Angkatan 2000". Omi meninggal pada tahun 2006 di Yogyakarta pada usia 36 tahun, meninggalkan satu tulisan terakhir yang berjudul "Song of Silence".
-
Dibacakan oleh Mei
-
Sudjinah adalah seorang aktivis sekaligus penulis perempuan Indonesia kelahiran Solo, Jawa Tengah, pada tanggal 27 Juli 1927. Ia menulis karya-karya sastra berupa cerita pendek dan puisi, juga artikel-artikel yang mengupas masalah perempuan yang dimuat di berbagai media pada masanya.
Sudjinah bersama sejumlah kawan sehaluannya mendukung Bung Karno dengan membuat buletin PKPS (Pendukung Komando Presiden Sukarno) di mana selama 2 tahunan Sudjinah bergerilya sambil menyebarkan buletin tersebut di tengah masyarakat, termasuk ke kedutaan-kedutaan negara asing.
Akibat aktivitasnya ini, Sudjinah dijebloskan ke penjara Bukit Duri tanpa pengadilan sebelum kemudian divonis hukuman kurungan selama 18 tahun atas tuduhan melakukan tindakan makar dan subversif. Ia mengenang hari-hari setelah 1 Oktober 1965 sebagai hari penuh ketakutan bagi anggota gerakan kiri.
Ia memutuskan menghabiskan masa tuanya di Panti Jompo Waluya Sejati Abadi yang diresmikan oleh mendiang Gus Dur dan dikhususkan bagi perempuan-perempuan bekas tahanan politik dan korban Peristiwa 1965.
Sudjinah berpulang, pada September 2007.
-
Dibacakan oleh Anggi
-
Sudjinah adalah seorang aktivis sekaligus penulis perempuan Indonesia kelahiran Solo, Jawa Tengah, pada tanggal 27 Juli 1927. Ia menulis karya-karya sastra berupa cerita pendek dan puisi, juga artikel-artikel yang mengupas masalah perempuan yang dimuat di berbagai media pada masanya.
Sudjinah bersama sejumlah kawan sehaluannya mendukung Bung Karno dengan membuat buletin PKPS (Pendukung Komando Presiden Sukarno) di mana selama 2 tahunan Sudjinah bergerilya sambil menyebarkan buletin tersebut di tengah masyarakat, termasuk ke kedutaan-kedutaan negara asing.
Akibat aktivitasnya ini, Sudjinah dijebloskan ke penjara Bukit Duri tanpa pengadilan sebelum kemudian divonis hukuman kurungan selama 18 tahun atas tuduhan melakukan tindakan makar dan subversif. Ia mengenang hari-hari setelah 1 Oktober 1965 sebagai hari penuh ketakutan bagi anggota gerakan kiri.
Ia memutuskan menghabiskan masa tuanya di Panti Jompo Waluya Sejati Abadi yang diresmikan oleh mendiang Gus Dur dan dikhususkan bagi perempuan-perempuan bekas tahanan politik dan korban Peristiwa 1965.
Sudjinah berpulang, pada September 2007.
-
Dibacakan oleh Rahmanda
-
Titis Basino, nama lengkapnya Titis Retnoningrum Basino, terkenal sebagai pengarang cerpen dan novel, lahir di Magelang, Jawa Tengah, 17 Januari 1939. Titis pun pernah bekerja sebagai pramugari pada maskapai penerbangan Garuda Indonesia Airways (1963-1964).
Namanya mulai dikenal dalam khazanah sastra Indonesia pada kurun waktu 1980-an. Akan tetapi, dia telah menggeluti dunia sastra sejak tahun 1960-an. Kehadirannya dalam kancah sastra Indonesia ditandai dengan munculnya beberapa cerita pendeknya dalam majalah.
Karya awalnya “Meja Gambar” yang dibacakan di Fragmen #3 Membacakan Cerpen kali ini sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris menjadi The Drafting Table oleh Claine Sivensen dan diterbitkan oleh Yayasan Lontar.
Selain aktif menulis, Titis Basino juga aktif sebagai Anggota Dewan Pengawas Yayasan Dokumentasi Sastra H.B. Jassin. Bersama-sama dengan teman-teman di PDS H.B. Jassin, Titis Basino bergulat dengan segenap tenaga dan perhatian untuk melanjutkan kerja besar yang telah diwariskan oleh alm H.B. Jassin terhadap khazanah sastra Indonesia.
-
Dibacakan oleh Dita Surachmad
-
S. Rukiah yang juga dikenal dengan nama S. Rukiah Kertapati adalah penulis perempuan kelahiran Purwakarta, Jawa Barat, 25 April 1927 yang produktif menulis novel, cerita anak, cerpen, dan puisi. Tandus, kumpulan cerpen dan puisinya yang terbit pada tahun 1952 bahkan mendapat penghargaan Seni Sastra dari Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional (BMKN)
Pada masa itu, bukan hal yang mudah bagi perempuan untuk menjadi penulis dan menerbitkannya. Namun, Rukiah menjadi perempuan muda yang mampu menjadi penggerak literasi dan menjadi perempuan pertama yang bukunya mendapat penghargaan nasional.
Keterlibatannya dengan Lembaga Kebudayaan Rakyat sebagai anggota pimpinan pusat Lekra pada tahun 1959, membuat namanya tak pernah lagi terdengar sejak pergolakan politik 1965, meskipun ia adalah sosok perempuan yang aktif di dunia literasi dengan sejumlah karya sastra. Namanya dihilangkan dari sejarah.
Keterlibatannya dengan Lekra membuat dirinya dilarang menulis oleh tentara yang mengawasi rumahnya. Anak-anaknya terus mendapatkan ancaman. Membuat kue, menjahit, dan menyulam menjadi satu-satunya jalan untuk tetap tegar menjalani hidup serta membiayai anak-anaknya.
Rangkaian petaka 1965 membuatnya menderita trauma dan ia pun tak pernah menulis lagi sejak itu.
-
Dibacakan oleh Putri Purnomo
-
Pada 1970-an, novel populer mulai semarak dari tangan para wanita pengarang di Indonesia, Aryanti muncul dengan novel pendek Selembut Bunga (1978). Sebelum itu, masyarakat tidak mengenal nama Aryanti. Setelah Selembut Bunga memenangkan Hadiah Buku Utama, juri menginginkan berkas yang menyertai Selembut Bunga dibuka, maka diketahuilah bahwa Aryanti adalah nama samaran dari Prof. Dr. Haryati Soebadio, Dirjen Kebudayaan RI ketika itu. Setelah itu, baik karya fiksinya maupun sosoknya mendapat publikasi yang luas di berbagai media massa di Tanah Air.
Dalam tiga novel pertama, Aryanti membangun cerita populer dengan pandangan-pandangan yang agak serius, antara lain bagaimana perempuan dunia ketiga berjuang dalam kondisi kultur lokal (Jawa), kosmopolitan dan global dengan peran dan status laki-laki yang dominan dan superior. Ia memilih tema itu membedakan diri dari arus besar penulisan novel selalu asmara dan perkotaan.
Pendapat HB Jassin atas karyanya dan selaku juri dan kritikus sastra: “… saya menyukai karena bermain dalam suatu niveau atau kalangan yang jarang digarap oleh pengarang kita. Keterpelajarannya juga menarik buat saya.”
Sampai karya novelnya yang ke-2 dan ke-3, Haryati Soebadio masih menggunakan nama Aryanti, ia memang tak seproduktif Marga T dan Mira W tapi memberi selera beda di penulisan sastra masa 1970-an.
-
Dibacakan oleh Marsha
-
Nurhayati Srihardini Siti Nukatin atau lebih dikenal dengan nama pena Nh. Dini adalah seorang penulis perempuan kelahiran Semarang, 29 Februari 1936, yang menulis berbagai genre sastra, seperti puisi, drama, cerita pendek, dan novel.
Budi Darma menyebutnya sebagai pengarang sastra feminis yang terus menyuarakan kemarahan kepada kaum laki-laki, padahal ia sendiri mengaku hanyalah seorang pengarang yang menuangkan realita kehidupan, pengalaman pribadi dan kepekaannya terhadap lingkungan ke dalam setiap tulisan-tulisannya.
Sementara menurut Putu Wijaya, ia adalah seorang pengarang yang menulis dengan telaten dan produktif, dengan ‘kebawelan yang panjang’.
Ia telah menulis lebih dari 20 buku dan kebanyakan karya-karyanya bercerita tentang wanita. Beberapa karya Nh Dini yang terkenal di antaranya adalah Pada Sebuah Kapal (1972), La Barka (1975), Namaku Hiroko (1977), dan kumpulan cerita Dua Dunia (1956) yang ia tulis saat memasuki usia SMA dan salah satu kisahnya dibacakan di Fragmen Ketiga Membacakan Cerpen ini.
-
Dibacakan oleh Diyan Zahro
-
Lebih dikenal dengan nama Marianne Katoppo di dunia sastra dan teologi. Nama lengkapnya adalah Henrietta Marianne Katoppo. Anak bungsu ini lahir pada Juni 1943 di tanah Minahasa. Persisnya di Tomohon, Sulawesi Utara.
Katoppo menyelesaikan studi teologinya pada 1963 di Sekolah Tinggi Teologi Jakarta dengan gelar Sarjana Muda Theologia. Di Tahun 1977 ia pula menuntaskan Sarjana Teologia di kampus yang sama. Karena buku karyanya yang berjudul “Compassionate and Free: An Asian Woman’s Theology” (1979) ia disebut teolog feminis pertama di Indonesia sekaligus Asia.
Di tahun 1995 ia dipercaya mewakili sastra dunia dari Indonesia yang dikenal dengan nama Pramoedya Ananta Toer untuk menerima Penghargaan Magsaysay di Manila, Filipina. Selain itu, ia berbicara banyak mewakili perempuan yang tertindas dan ditindas.
Katoppo menduniakan Minahasa melalui Sastra dan Teologi. Ia menghembuskan nafas terakhir pada 12 Oktober 2007 di Bogor, di samping kakaknya, Pericles Katoppo. Jenazah Marianne dikremasi 13 Oktober 2007 di Krematorium Oasis, Tangerang.
-
Dibacakan oleh Nara Kristi
-
Ratna Indraswari Ibrahim merupakan penulis perempuan Indonesia kelahiran 24 April 1949. Pada masa kanak-kanak, Ratna menderita radang tulang yang mengakibatkan kedua kaki dan tangannya tidak berfungsi. Hal inilah yang menyebabkan Ratna harus menjalani semua aktivitas kehidupannya dengan duduk di atas kursi roda semenjak berusia 10 tahun.
Walaupun kemampuan fisiknya sangat terbatas, namun ia mampu melahirkan karya sastra secara produktif. Kesetiaan untuk terus berkarya di dunia sastra ditandai dengan lebih dari 400 karya cerpen dan novel yang ia hasilkan sejak usia remaja hingga akhir hayatnya di usia 62 tahun.
Kemanusiaanlah yang menjadikan Ratna tetap menulis. Cerpen-cerpen Ratna senantiasa mengabarkan kepada kita bahwa ada penindasan dan ketidakadilan yang terjadi di sekitar kita. Dan cerpen adalah media yang dipilihnya untuk mengungkapkan perasaannya dalam melukiskan sebuah kisah.
Dalam sebuah artikel di situs jurnalperempuan.org, Ratna mengutip ucapan mendiang Ibunya, “Perempuan itu jangan ngobrol saja, perempuan itu harus menulis, menulis apa saja. Karena dengan menulis, ia dapat menemukan dirinya.”
- Visa fler